ISIS | December 6 2009| @ Vera, Groningen | 20.30-23.30

12 12 2009

Tentunya gak terlalu mengharapkan mereka untuk mainin lagu-lagu di Oceanic atau Panopticon, karena seperti biasanya, mereka dan kebanyakan dari band-band Amerika yang tur ke Eropa, selalu dalam rangka mempromosikan album baru yang dirilis, jadi lagu2 baru pasti diprioritaskan. Ternyata nomor2 dari kedua album yang udah familiar ditelinga akhirnya keluar juga. Karena belum sempet ngedengerin Wavering Radiant yang baru dirilis Mei tahun ini, asumsi: akan banyak ngelamun nonton Isis. Tapi karena ini pertama kalinya nonton mereka, apapun yang mereka suguhin, pasti jadi pengalaman yang luar biasa.

Show mereka dibuka ama dua band keren, Keelhaul (sesama almamater Hydra Head bareng Isis) mereka udah jadi band yang paling ditunggu kalo datang ke Groningen, dan satu lagi band yang gak disangka2 ajaib bin aneh, Circle, datang dari Piro,Finland menyuguhkan metal yang gak biasa. Bayangin Laibach dan sedikit John Zorn. Penampilan eksentrik si vokalis bikin ngak kak yang nonton. Kalo sepintas diliat, mereka sama sekali gak kayak performer metal lainnya (liat foto), mungkin lebih kayak sadomasochist klasik dari negara Eropa timur, terutama si vokalisnya. Emosi yang didapet pun dari nonton mereka cukup aneh. Awalnya hampir semua yang nonton pada kabur n gak tahan ama sound aneh mereka, tapi lama kelamaan jadi terhipnotis, n akhirnya goyang n headbang bareng mereka. Fantastis. Sebagai penutup, si vokalis dipangku pemain bass yang badannya lumayan ngisi sambil nyanyi2 dibarengi gestur militer plus kungfu yang bikin impresi terakhir lebih dari maksimal. Circle, gak salah lagi, memang kuda putih dari show malam ini.

Selanjutnya, Isis.

Aaron Turner (guitar,vox) dan Bryant Clifford Meyer (electronics, guitar dan keyboard) datang duluan ke panggung, disusul personil lainnya, Michael Gallagher (udah dijamin pasti edan karena pake kaos Dalek :) ), Jeff Caxide (yang paling kalem), dan terakhir si drummer Aaron Harris. Set up gear mereka sepertinya cukup standar (Mesa/Boogie dan Ampeg) kecuali gitar yang Turner dan Meyer pake sepertinya baru. Yakin seyakin-yakinnya mereka pake gitar custom buatan Electrical Guitar Company dari Florida, salah satu generasi penerus luthier gitar aluminium setelah Travis Bean dan Kramer.

Lagu pertama mereka pembuka set, ternyata dari Oceanic, “The Other”. Buru2 kamera video kunyalakan, karena momen yang cukup penting. Disusul setelah itu ama lagu2 baru mereka dari Wavering Radiant, dan satu dua dari Panopticon. Yang paling fenomenal datang di tengah2 set ketika mereka bawain “Carry”, dan penontonpun dengan penuh hati ber-sing-a-long ke lirik lagu ini. Paling menarik adalah settingan mikrofon Turner yang reverby, bikin suasana venue terhipnotis.

Tapi, kalo boleh jujur, kayaknya mereka gak kan lari kemana2 setelah album ini. Maksudnya, dengan style yang gini2 terus, Isis kayaknya udah mentok, gak ada yang spesial dari performance live mereka kalo dianalisis. Dari satu lagu ke yang lainnya, mirip semua. Dengan additional keyboard dan electronics, gak ngaruh2 amat. Dan mereka gak terlalu enerjik n entusias waktu maen. Mungkin juga ini memang simptom dari kebanyakan touring band yang punya jadwal tour 30 hari non-stop, terutama dari Amerika dan UK, yang udah beberapa kali tour Eropa. Tur pertama biasanya masih asyik2, tur kedua udah lumayan jenuh, tur ketiga udah ngalor ngidul, n tur selanjutnya biasanya udah males2an akut. Contoh: Tragedy waktu tur kesini sama sekali gak nunjukkin entusiasmu, malah grumpy.

Touring memang udah jadi bagian dari kerja untuk band2 kayak gini,jadi kadang2 maen show di satu kota yang bagi orang lain spesial, gak ada nilai surprise nya. Satu hal yang ngebedain kultur show di Asia Tenggara ataupun di Indonesia, booking agents disini bener2 ngaruh. Walaupun ada juga band2 yang gak mau pake booking agents, kebanyakan band2 yang lebih mengandalkan DIY networking. Disini, karena terlalu banyak show, biasanya orang jadi bingung mau pergi ke show yang mana, walhasil penonton yg dateng sedikit, kecuali kalo mereka yang udah punya nama kayak Isis, atau The Dodos kemaren. Di Indonesia, apapun show nya, selalu ‘diudag’ massa, n yang dateng  hampir selalu lumayan banyak, karena masih minim nya show yang bisa diprogram secara reguler. Mungkin disini juga dulu kayak gitu. Semua ada plus minusnya, baik di Indonesia maupun disini. Yang jelas disini bedanya, di konser hardcore/punk/metal pun, bapak2 n ibu2 berusia kepala 5 atau 6 pun masih dateng nonton gigs. Now that’s a rare sight in Indo :)

Anyway, kembali ke Isis. Set mereka ditutup oleh satu lagu dari Panopticon (lupa judulnya) n satu lagu baru. Isis memang cukup influential, termasuk di Indonesia pun. But honestly, they just didn’t live up to the expectation. Cukup mengecewakan. Paling gak suka kalo band gak komunikatif. Satu kata pun gak keluar dari mulut mereka. Apa ini tren baru disini, band gak ngomong apapun ke mereka yang dateng?

[warning: review ini sangat subjektif. Kalo gak percaya, liat sub-judul blog ini]

Untuk foto2 mereka dari Vera, kunjungi:

http://www.vera-groningen.nl/photos/isis-circle-keelhaul-06-12-2009#





Salam buat semua di Indonesia dan Southeast Asia

25 11 2009

Hi, ini Ernesto MamaYukero! Hanya iseng bikin journal online untuk live shows yang saya pernah lihat semenjak tiba di negeri kincir angin ini. Saya saat ini studi di University of Groningen, untuk program research master Literary and Cultural Studies:Film, Music and Performing Arts. Groningen kota paling utara di Belanda yang gak kalah menariknya ama Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag.Bahkan untuk aktivitias kultural, disini lebih hidup dan menarik. Karena kota nya gak terlalu besar, kemanan2 bisa jalan kaki n naek sepeda, n juga kota pelajar yang populasi anak mudanya lebih besar dibandingkan kota2 lain disini. Terutama untuk musik underground/alternative/punk/DIY whatever you wanna call it, disini di Groningen infrastruktur dan partisipan nya sangat konsern akan aktivitas musik dan lainnya yang berkaitan ama cultural/arts affairs.

Ada satu tempat, sebuah klub/venue legendaris, yang bikin Groningen jadi kota yang wajib dikunjungi band2 dari U.S., U.K, Australia, Japan dan dari Belanda disini. Namanya Vera- Club for the International Pop-Underground. Slogannya diambil dari istilah ciptaan Calvin Johnson [Beat Happening, K Records].Klub ini sebenernya udah beroperasi dari awal 70-an, walaupun secara organisasional mereka udah terbentuk dari tahun 1899 sebagai perkumpulan mahasiswa. Dari akhir 70-an, mereka jadi lebih fokus ke programming gigs dan film serta aktivitas kultural yang berbeda dari klub lainnya disini. Mereka salah satu klub pertama yang booking band2 punk awal dari U.K dan juga Amerika. Walhasil, band kayak Joy Division, Killing Joke, Wire, The Birthday Party, Big Black, bahkan U2 dan Nirvana sempet manggung disini. Dan nama2 lain yang udah jadi bagian keluarga Vera diantaranya Sonic Youth, Dino Jr, Neurosis, The Wipers, Boredoms dll, udah jadi langganan show Vera. Yang paling menarik sebenernya gimana mereka beroperasi. Vera dikelola oleh hanya beberapa orang yang secara profesional, artinya mereka dapet gaji n segala macem, tapi dengan attitude egalitarian non-hierarkikal, Vera secara garis besar dijalankan oleh voluntir. Ada yang voluntir di bagian bartendering, bagian sound, di bagian pressing (mereka satu2nya klub yang bikin poster sendiri untuk tiap show, klub lain udah ngandelin printing press untuk advertisement secara masif, voluntir lainnya secara sukarela tiap minggu menyumbangkan waktu untuk mengelola klub ini.

Tapi, menarik untuk kita di Indonesia yang mana pemerintah lokal maupun nasional boro2 peduli ama aktivitas kultural apalagi musik brang breng brong, Vera dan beberapa venue kultural lainnya, dapet subsidi dari pemerintah tiap tahun. Tapi ini gak bikin mereka males2an untuk mengelola klub ini secara professional, dari mulai book keeping sampe akomodasi untuk band2 yang maen disitu. Note: di lantai dua venue, ada beberapa kamar tersedia khusus untuk band2 yang manggung, jadi band2 gak perlu nginep di hotel. Ditambah garasi yang luas untuk van/mini bus buat band yang tour, terus ada mesin cuci plus peralatan masak n bikin kopi, Vera bener2 menempatkan band yang dateng n maen sebagai pusat kegiatannya,jadi gak ada istilah band ditelantarkan ataupun gak diperhatikan. ‘Bands should always feel welcome and treated nicely here’, kata Peter Weening, programmer untuk show Vera yang udah jadi programmer Vera sejak tahun 1979. Dan banyak band2 yang selalu menantikan untuk maen di Vera setiap kali mereka tour Eropa.

Untuk info ttg Vera n koleksi poster mereka, bisa diliat di:

www.vera-groningen.nl

Saat ini saya lagi bikin research tentang Vera untuk salah satu mata kuliah, dan hasilnya sangat menarik sekali. Mudah2an bisa dipublish suatu saat. Tapi, untuk saat ini, saya pengen sharing dokumentasi n review dari show2 yang pernah dan akan saya tonton di Vera. Atau mungkin show2 di venue lain di Belanda n sekitar Eropa barat. Beberapa yang pernah ditonton: Boredoms-Japan(2007), Michael Gira (Swans)-USA (2007), Shellac-USA(2009), Magik Markers-USA(2009), Pulled Apart by Horses-UK(2009), The Dodos-USA(2009), dan beberapa show lainnya. Terakhir kali, saya nonton The Dodos n sempat interview mereka.

Untuk postingan pertama ini, review The Dodos (coming soon) kayaknya jadi debut blog ini, karena masih fresh di ingatan. Enjoy, guys! n kirim salam atau komen di blog ini. I miss Batagor kuah n keringgggg!!!!!!!!!!!!!!