Tentunya gak terlalu mengharapkan mereka untuk mainin lagu-lagu di Oceanic atau Panopticon, karena seperti biasanya, mereka dan kebanyakan dari band-band Amerika yang tur ke Eropa, selalu dalam rangka mempromosikan album baru yang dirilis, jadi lagu2 baru pasti diprioritaskan. Ternyata nomor2 dari kedua album yang udah familiar ditelinga akhirnya keluar juga. Karena belum sempet ngedengerin Wavering Radiant yang baru dirilis Mei tahun ini, asumsi: akan banyak ngelamun nonton Isis. Tapi karena ini pertama kalinya nonton mereka, apapun yang mereka suguhin, pasti jadi pengalaman yang luar biasa.
Show mereka dibuka ama dua band keren, Keelhaul (sesama almamater Hydra Head bareng Isis) mereka udah jadi band yang paling ditunggu kalo datang ke Groningen, dan satu lagi band yang gak disangka2 ajaib bin aneh, Circle, datang dari
Piro,Finland menyuguhkan metal yang gak biasa. Bayangin Laibach dan sedikit John Zorn. Penampilan eksentrik si vokalis bikin ngak kak yang nonton. Kalo sepintas diliat, mereka sama sekali gak kayak performer metal lainnya (liat foto), mungkin lebih kayak sadomasochist klasik dari negara Eropa timur, terutama si vokalisnya. Emosi yang didapet pun dari nonton mereka cukup aneh. Awalnya hampir semua yang nonton pada kabur n gak tahan ama sound aneh mereka, tapi lama kelamaan jadi terhipnotis, n akhirnya goyang n headbang bareng mereka. Fantastis. Sebagai penutup, si vokalis dipangku pemain bass yang badannya lumayan ngisi sambil nyanyi2 dibarengi gestur militer plus kungfu yang bikin impresi terakhir lebih dari maksimal. Circle, gak salah lagi, memang kuda putih dari show malam ini.
Selanjutnya, Isis.
Aaron Turner (guitar,vox) dan Bryant Clifford Meyer (electronics, guitar dan keyboard) datang duluan ke panggung, disusul personil lainnya, Michael Gallagher (udah dijamin pasti edan karena pake kaos Dalek
), Jeff Caxide (yang paling kalem), dan terakhir si drummer Aaron Harris. Set up gear mereka sepertinya cukup standar (Mesa/Boogie dan Ampeg) kecuali gitar yang Turner dan Meyer pake sepertinya baru. Yakin seyakin-yakinnya mereka pake gitar custom buatan Electrical Guitar Company dari Florida, salah satu generasi penerus luthier gitar aluminium setelah Travis Bean dan Kramer.
Lagu pertama mereka pembuka set, ternyata dari Oceanic, “The Other”. Buru2 kamera video kunyalakan, karena momen yang cukup penting. Disusul setelah itu ama lagu2 baru mereka dari Wavering Radiant, dan satu dua dari Panopticon. Yang paling fenomenal datang di tengah2 set ketika mereka bawain “Carry”, dan penontonpun dengan penuh hati ber-sing-a-long ke lirik lagu ini. Paling menarik adalah settingan mikrofon Turner yang reverby, bikin suasana venue terhipnotis.
Tapi, kalo boleh jujur, kayaknya mereka gak kan lari kemana2 setelah album ini. Maksudnya, dengan style yang gini2 terus, Isis kayaknya udah mentok, gak ada yang spesial dari performance live mereka kalo dianalisis. Dari satu lagu ke yang lainnya, mirip semua. Dengan additional keyboard dan electronics, gak ngaruh2 amat. Dan mereka gak terlalu enerjik n entusias waktu maen. Mungkin juga ini memang simptom dari kebanyakan touring band yang punya jadwal tour 30 hari non-stop, terutama dari Amerika dan UK, yang udah beberapa kali tour Eropa. Tur pertama biasanya masih asyik2, tur kedua udah lumayan jenuh, tur ketiga udah ngalor ngidul, n tur selanjutnya biasanya udah males2an akut. Contoh: Tragedy waktu tur kesini sama sekali gak nunjukkin entusiasmu, malah grumpy.
Touring memang udah jadi bagian dari kerja untuk band2 kayak gini,jadi kadang2 maen show di satu kota yang bagi orang lain spesial, gak ada nilai surprise nya. Satu hal yang ngebedain kultur show di Asia Tenggara ataupun di Indonesia, booking agents disini bener2 ngaruh. Walaupun ada juga band2 yang gak mau pake booking agents, kebanyakan band2 yang lebih mengandalkan DIY networking. Disini, karena terlalu banyak show, biasanya orang jadi bingung mau pergi ke show yang mana, walhasil penonton yg dateng sedikit, kecuali kalo mereka yang udah punya nama kayak Isis, atau The Dodos kemaren. Di Indonesia, apapun show nya, selalu ‘diudag’ massa, n yang dateng hampir selalu lumayan banyak, karena masih
minim nya show yang bisa diprogram secara reguler. Mungkin disini juga dulu kayak gitu. Semua ada plus minusnya, baik di Indonesia maupun disini. Yang jelas disini bedanya, di konser hardcore/punk/metal pun, bapak2 n ibu2 berusia kepala 5 atau 6 pun masih dateng nonton gigs. Now that’s a rare sight in Indo
Anyway, kembali ke Isis. Set mereka ditutup oleh satu lagu dari Panopticon (lupa judulnya) n satu lagu baru. Isis memang cukup influential, termasuk di Indonesia pun. But honestly, they just didn’t live up to the expectation. Cukup mengecewakan. Paling gak suka kalo band gak komunikatif. Satu kata pun gak keluar dari mulut mereka. Apa ini tren baru disini, band gak ngomong apapun ke mereka yang dateng?
[warning: review ini sangat subjektif. Kalo gak percaya, liat sub-judul blog ini]
Untuk foto2 mereka dari Vera, kunjungi:
http://www.vera-groningen.nl/photos/isis-circle-keelhaul-06-12-2009#










