Thee Silver Mount Zion Memorial Orchestra @Vera, April 24th 2010

1 05 2010

OK, sorri nih baru sekarang bisa update PreSomethingSomething lagi. Gak mau ngasih alasan basa-basi selain faktor waktu yg banyak tersita buat urusan studi. So, I won’t give you any lame excuses here, fellas! Anyway, ini review terakhir dari gig yang saya tonton di Vera, Groningen. Sebelum ini ada beberapa show—baik di Vera maupun venue lain, tapi gak terlalu menarik untuk ditulis disini—unfortunately, show inipun kalo dari segi experiential gak begitu monumental, but I used to love A Silver Mt. Zion, so I just gotta write about’em. Enjoy.


Ok, sejauh ini , hanya ada beberapa show yg mengecewakan di Vera; tapi kali ini bener2 melewati batas parameter “membosankan.” Thee Silver Mount Zion Memorial Orchestra adalah inkarnasi ke 5—sebelumnya Silver Mt. Zion, The Silver Mt. Zion Memorial Orchestra & Tra-La-La Band, Thee Silver Mt. Zion Memorial Orchestra and Tra-La-La Band with Choir dan Thee Silver Mountain Reveries— dari ensembel post-rock orchestra warga Montreal, Canada ini. Dengan garis afiliasi yg menghubungkan mereka ama artis Constellation Records lainnya—tentunya the algmighty Godspeed You! Black Emperor, yang mana gitaris Efrim Menuck salah satu veteran dari sang pionir sound Montreal ini—ekspektasi saya cukup tinggi dari mereka, walaupun sedikit naif, apalagi ketika denger LP teranyar mereka Kollapse Tradixionales (Constellation Recs. 2010) yang jauh banget dari rekaman awal-awal mereka yang lebih kontemplatif, kayak album pertama mereka He Has Left Us Alone but Shafts of Light Sometimes Grace the Corner of Our Rooms…(Constellation Recs. 2000), sepertinya cukup utopian untuk mengharapkan mereka tetep bersikukuh mempertahankan aura gelap gulita yg mereka ciptakan lewat permainan violin dan double-bass seperti sebelumnya, so I knew they were gonna be different than before. Tapi, gak nyangka kalo akan sebegitu membosankannya! Bukan hanya mereka sekarang jadi lebih condong beraura Americana slash folky slash Louisiana wishy-washy, tapi bayangin disodori ritme repetitif dan harmoni vokal yang pretensius selama 15-20 menit hanya untuk satu lagu aja, god damn, man! Kayaknya gak worth it bayar 12 Euro untuk nonton kayak ginian, lebih baik nonton band folk beneran di pub Irish atau pergi ke New Orleans sekalian. Satu-satunya hal yang cukup menghibur hanya interaksi sang gitaris Efrim dg penonton yang tiap kali satu lagi beres (ingat, satu lagi 20 menit!), ketimbang bilang “thank you!”, dia malah nanya ke penonton “any criticism???”…tentunya gak ada yg berani bilang “meni lila pisannnnn!!!!” Tapi disamping itu, gak ada yg spesial dari mereka, segimanapun jagonya mereka mainin intstrumen classical music. So, this one will pass me by quickly in my memory, I presume…

Akhirnya, saya balik kanan menuju ke basement Vera dimana show yg lainnya baru aja dimulai, sebuah band dari Philadelphia namanya Gods and Queens (kira2 mirip Quicksand/Fugazi/Guided By Voices) baru mainin lagu pertama, and this feels more like home! Basement show selalu lebih intimate daripada show di mainstage yg kadang2 terlalu impersonal dan jauh…

But I’m excited for….JAPANDROID, bulan Juni nanti di Vera. WALAUPUN, gak kan berekspektasi terlalu tinggi, karena akhir2 ini, dg dominasi Pitchfork yang merajalela, walaupun band ini band itu dapet review 9 atau 8 ama mereka, BUKAN JAMINAN! Intinya, kita sendiri yang bisa ngasih evaluasi, so I’ve learned not to have too much reliance on Pitchfork!






DIY touring di Southeast Asia [Indonesia:Bandung khususnya]: Sebuah Refleksi

1 05 2010

Beberapa bulan kemaren saya lagi ngerjain proyek research untuk salah satu mata kuliah di program master di University of Groningen, salah satu topiknya adalah music and globalization. Untuk topik bahasan paper yg saya tulis, saya ngangkat masalah dinamika DIY touring di Asia Tenggara, terutama Indonesia dan relasinya dengan network komunitas punk/hc/indie global. Salah satu responden yg saya interview adalah kolektif Balkot Terror Project secara individual, jadi walaupun mereka dari kolektif yg sama, bukan berarti punya opini yang seragam. Balkot Terror Projek adalah bentukan terakhir dari rembuga kolektif yg ngumpul di Balai Kota Bandung sebelumnya, diantaranya Reclaim the Stairs, dan sebelumnya tanpa nama (circa 2002-2003). Individu-individu ini punya dedikasi dan komitmen yg tinggi akan aktivitas dan kontinyuasi komunitas berbasis musik dan aktivisme dari bikin show sampai ke publikasi zine dan sebagainya. Tanpa berpretensi untuk meromantisasi dan mengidealisasikan aktivitas mereka, saya pikir sumbangsih mereka untuk sustainibilitas scene hardcore/punk di Bandung atau Indonesia cukup besar karena dibandingkan dg infrastruktur touring disini yg udah serba tertata dan alur proses touring yang ditangani booking agents dan pemilik venue, para penikmat musik underground disini hanya tinggal dateng dan nonton, tanpa harus grasak grusuk nyiapin tempat, sound, akomodasi dan lainnya buat band yg lagi tour. Jadi, dg perbedaan situasi dan konteks ini, saya pikir band2 yg tour ke Indonesia atau Bandung, harus lebih bersyukur dg adanya kolektif dan individu2 yg aktif seperti di Balkot atau temen2 lain di kota kayak Solo, Jakarta dan Yogya. Mereka dg sukarela meluangkan enerji, waktu, emosi dan seringkali finansial untuk bisa menjamu band2 dari luar yg dateng. Disini, di Eropa dan Amerika, hampir semua aktivitas yg dilakukan booking agents atau venue selalu diperhitungkan dari aspek keuangan…dan mana ada yang mau nganter2 band jalan2 ke gunung berapi atau keliling seputar kota kayak di kita. Semua orang sibuk disini dan band2 yg dateng udah gak terlalu dianggap kayak tamu yg harus dijamu lagi. Touring band hanyalah bagian dari performance-based entertainer yg lewat lewat begitu aja. Kecuali kalo memang band yg bisa dibilang lebih down-to-earth dan main di tempat yg bukan venue standar, mereka lebih approachable. Intinya, dengan segala kekurangan dan problem yg sering dihadapi kawan2 kolektif tour organizing di Indonesia, band2 luar harus lebih apresiatif dan lebih ngerti akan situasi disana. Tapi bukan berarti kitapun di Indonesia gak mencari solusi terhadap kekurangan dan problem yg sering muncul. Saya sendiri gak punya solusi yg jitu untuk polemik ini, tapi yg jelas, kitapun di Indonesia, harus lebih kritis menerima tawaran band2 dari luar. Jangan hanya main terima begitu aja. Dg enerji yg kita keluarkan untuk bisa menjalankan aktivitas touring dan menjamu band2 ini, kita harus punya bargaining position juga. Maksudnya, kalo memang menurut kita band nya gak bagus, dan hanya pengen nunjukkin status mereka sebagai band DIY/hc/punk dari luar untuk nambah portofolio mereka, kita harus lebih jeli dan berani untuk bilang ‘tidak.’ Karena, kitapun jangan terlalu terobsesi dan terbuai mistifikasi aura Western atau asumsi kalo band dari luar pasti dijamin keren atau bagus; jangan salah malah banyak band2 yg lebih keren di Indonesia dibandingin dari Amerika atau Eropa Barat.  Sebagai konklusi, saya hanya ingin kita di Indonesia, yg mengeluarkan banyak tenaga untuk bisa bikin show, atau aktivitas lainnya di scene, doing all this NOT FOR NOTHING! Kitapun harus bisa lebih selektif dan kritis menanggapi ‘banjir’ band2 touring dari luar yang semakin meningkat jumlahnya tiap tahun…Saat ini, temen2 di Singapore udah mulai bisa men-tackle salah satu problem ini (venue, masalah perijinan, dll) dg usaha mereka untuk membuka DIY venue pertama di Asia Tenggara: Blackhole212 (http://blackhole212.wordpress.com/), walaupun situasi ekonomi Singapore dg purchasing power dan kurensi yg lebih tinggi dari situasi kita di Indonesia, saya pikir enggak menutup kemungkinan kitapun punya bentukan ruang komunitas independen seperti ini suatu hari nanti, who knows. I’m cautiously optimistic!

Di postingan inipun saya sertakan interview saya dg Cher dari komunitas temen2 di Singapore.

Anyway, enough said, ingat opini diatas hanya opini subjektif saya. Take it or leave it. At least I’ve said it!  Enjoy these interviews dan salut buat temen2 di Balkot n kawan organizers lain di Indonesia.

|Interview with Cher Tan, the coolest friend from the Singa land ever! [Two Seconds Notice Zine/Blackhole212]|

[Q] Why do you think that the influx of international bands coming to SE Asia is increasing year by year? What is it that makes Southeast Asia so enticing to these bands that they would invest an enormous amount of money for travel fare, accommodation and personal expenses to tour the region? Although they know that they will not get that much financial/material compensation in return?

[Cher] I suppose SE Asia has been put on the map lately, so to speak, especially after a few “brave” bands dared to venture out here and came back to their respective countries armed with stories about how fantastic the tour was, how crazy the crowd could be at times, how warm and hospitable everyone is, and how much touring Southeast Asia is an experience that cannot be beat. I think any adventurous DIY band would be sold!

(This is my positive answer, you will see the other opinion as you read on)

[Q] To the local scenes, in Singapore or in Indo, what do you think the benefits are in having these bands tour the region? Other than communication, friendship and solidarity, do you think the DIY touring by the international (Western) DIY bands in the region brings up problem too? E.g. misunderstanding, inequality and under-representation of the Southeast Asian DIY-punk/hc bands/zines in the global/Western punk media and reception? And what makes this touring different than let’s say an exotic “touristic” adventure under the pretext of punk/hc?

[Cher] That’s a good question. For one, the more touring bands there are, the more the word gets out that the (Southeast) Asian DIY scene actually exists, and in some countries/cities is quite large, and is not only limited to Japan, which seems to be somewhat the misconception in the past. Also, the more bands tour here, the more it adds to the growth of the DIY international network which creates a sense of solidarity and a blurring of nationalities/races while all identifying as “punk” (or some such related to that).

Some problems which could arise as a result of this influx in touring – as more and more bands express an interest to tour these days, it might lead to a bottle-neck situation where the number of bands wanting to tour might be more than the number of organizers available. Of course we say that anyone can organize tours/book shows but you know that is simply an idealistic notion – all over the place we only see a handful of people who dare and want to get down and dirty doing the work. That influx may lead to a burn-out as scene(s) grow and perhaps also lead to apathetic audiences, where it is simply taken for granted that there is a new touring band every month, people stop getting excited, it is no longer a “novelty”, and gigs start to get less and less turn-outs or stop being as fun. But I do not deny that it is somewhat of a “natural” progression (as reflected in one too many scenes in the west), one which we MAY be able to stop if we as a scene identify the problem early.

Of course, there is also the other problem which I am somewhat worried about – that Southeast Asia is seen as the cool “exotic” thing to do now for these Western bands. I am not saying that all bands come here with the mentality (and I know and have handled a lot who DON’T and are extremely aware of their (white or otherwise) privilege) but sometimes it does seep in unconsciously. I have experienced situations which have made me uncomfortable so this is something I think we should address. This leads to the 3rd part of your question about how different touring makes from an exotic tourist adventure and I’d say the situation is not so clear-cut. Sure, it may be different in such a way that bands get to see the respective countries they tour in and the scene through local eyes, but how much of that is taken into consideration and not exoticized? We as human beings are all guilty of exoticizing and romanticizing what is novel so what steps should we take so much so that we take a step back and examine ourselves so that we all do not fall into this trap?

[Q] What do you wish to see from this DIY touring mechanism, or just in global DIY hc/punk phenomenon in general?

[Cher] An expanded DIY international solidarity network definitely, one that is, even as we speak, growing more and more each day. More cultural exchanges, and definitely more understanding of the Southeast Asian punk scene(s) and varied cultures as a whole, the unpacking of privilege, and how the “one-size-fits-all” Western mentality may not necessarily apply here (despite some scenes here still unconsciously mimicking the Western model, but as we grow I can see that we are trying to break away and create our own).

|Interview Balkot Terror Project diantaranya dengan Kiki Kotsar, DenDrew dan Aldy Ambush Your Ambition dan Elgis Mardika|

KIKI KOTSAR+ALDY AYA+ELGIS+DENDREW

[Q] gimana n kenapa kamu tertarik dg aktivitas DIY kolektif, terutama dg pengorganisiran DIY show/touring buat band DIY internasional? n kamu sendiri udah berapa kali sempat organize show2 ini? apa jumlah band2 ini akan bertambah banyak lagi tahun2 kedepan?

[KIKI] kenapa sy tertarik ngeorganize band luar, di satu sisi sy bisa bertukar informasi dengan orang-orang luar, sy bisa memiliki teman disana dan membuka jaringan diy dengan teman kami disana, sy sendiri sudah kurang laebih 8 kali mengorganize show2 band luar dan menurut sy jumlah ini akan bertambah, menurut saya band semakin banyak dan band-band yang telah tur kesini dapat memberikan info pada band yang lain, dan setau sy mereka sangat senang dengan apresiasi orang-orang kita pada band DIY hardcore/punk internasional.

[ALDY] Karena menurut saya aktivitas DIY sendiri sangat erat sekali kaitannya dengan kemandirian dan pereratan kekeluargaan, contoh kemandiriannya bisa kita aplikasikan kedalam pengorganisiran band2 yang datang dari negri tetangga, dari awal kita berkomunikasi dengan mereka sampai tour mereka ke Bandung, tanpa memungut biaya sama sekali, kita menyewa seperangkat sound system yang akan kita pakai nanti, kita mengumpulkan dana-dana dari band dan uang kas, sehingga terkumpul uang kolektif yang bisa kita pakai untuk menyewa sound system dan segala hal yang meyangkut kedalam pengorganisiran suatau acara, karena saya meyakini bahwa DIY adalah suatu pergerakan yang tidak merugikan antara satu individu dengan individu lainnya, melainkan kita akan mendapatkan banyak pengalaman mengenai kebersamaan, dalam kata lain DIY adalah pergerakan oleh kita untuk kita, apapun yang kita lakukan akan berdampak kepada diri kita sendiri.

Yang sempat saya organisir bersama sahabat-sahabat saya kira kira ada 9 band luar, tetapi sebelum saya ikut dengan sahabat-sahabat saya mungkin sampai saat ini kurang lebih ada 18 band luar yang pernah kita organisir.Yupp!pasti kedepannya akan selalu bertambah dan pastinya they are very awesome!!!

[ELGIS] Awalnya saya mencari tahu apa itu arti dari sebuah hardcore/punk, kolektif, keterikatan sponsor dalam sebuah show organizer dan dari sana pula akhirnya saya bisa sangat tertarik untuk aktif di dalam sebuah DIY kolektif. mengorganisiran DIY show/touring ataupun band DIY international sudah terbilang sangat banyak mulai dari kolektif anak muda producktionz hingga balkot terror project (continue dari balkot terdahulu dengan beberapa personal yang masih ada). jumlah band dengan ethos DIY saya berani memastikan akan semakin banyak dan lebih dewasa di tahun2 kedepan.

[Q] kenapa menurut kamu band2 ini pengen tour n maen ke Indo? karena kalo diliat dari segi finansial, mereka gak untung apa2 n malah banyak yg rugi?

[KIKI] ya itu karena orang-orang disini apresiatif dan respek terhadap band-band internasional yang dtg,  selain karena mereka mendapatkan care yang baik selama mereka tur, mereka juga salut dengan DIY show organize yang dijalankan oleh orang yang cukup byk..hal tersebut yang tidak mereka temui di negara mereka.

[ALDY] Menurut saya mungkin salah satunya mereka menyukai budaya Indonesia, dan yang saya saksikan selama ini scene-scene di Indonesia sangat menyambut sekali kedatangan sahabat dari negri tetangga, seperti halnya waktu mereka menggelar show mereka , kita ikut interaktif dalam show mereka walaupun kita tidak tahu sama sekali lagu-lagu mereka tetapi kita terus saja melakukan moshpit, mungkin itu yang membuat mereka ternganga, ketagihan dan bilang “the best show we ever had”, kalau dalam segi financial, namanya juga DIY, mungkin mereka juga menyikapi dalam hal ini, seandainya kita punya uang lebih pasti kita juga memberi mereka sedikit rezeki, toh DIY bukan tempat untuk menguras uang…cheers!!hehe

[ELGIS] Menurut saya band2 yang tour dan maen ke indonesia bukan hanya sekedar untuk sebuah show datang dan pergi dari suatu kota ke kota  tapi mereka ingin mengetahui juga sebuah culture dan habit tentang masyarakat, kolektif maupun scene yang ada di semua tempat!
contohnya : ketika tour pisschrist dan blockshot yang di orginaize oleh Balkot terror project pada tanggal 5 januari 2010 di hentikan oleh polisi karena masalah perizinan dan warga asing yang menjadi perdebatan (banyak hal yang tidak masuk akal) padahal pisschrist memiliki rundown beramin di urutan ke 10 tapi polisi datang dan menghentikan show di band ke 9.
saya pikir mereka bakalan kecewa karena sama sekali belum melakukan apapun di stage!
tetapi Dave dan personel pisschrist lainnya dapat mengerti kondisi dan mengatakan pada saya “Kami tidak kecewa atas kejadian tersebut, karena kami juga mendapatkan banyak kesenangan lain di luar show seperti berkumpul dengan anak2 scene lokal di bandung dan dapat menyaksikan banyak band di sini dan kami berharap dapat datang lagi ke sini”.

[Q] untuk scene lokal di Indo sendiri, atau katakanlah di Bandung, apa keuntungan dari datangnya band2 internasional kesitu? n gimana relasi antara scenester lokal (organizer, band, n zine writer) dg scenester internasional yg dateng? apa keduanya cukup equal, atau banyak sekali ketimpangan ? *baik dari segi ekonomi maupun cara pandang*

[KIKI] pertama mereka mendapatkan informasi tentang scene maupun orang-orang yang ada disini, bbrp dr mereka juga bilang bahwa ternyata prediksi orang-orang di luar negeri khususnya di negara barat itu salah, mereka menganggap bahwa orang-orang di indo sebagian besar dihuni oleh muslim-muslim yang fanatis, dan ternyata prediksi mereka ga bener, untuk scene nya sendiri keuntungan yang didapet kita dapat mengenal satu sama lain, melakukan korespondensi, bertukar informasi tentang DIY Hardcore/punk scene dan info-info lainnya, kita juga membuka jaringan seperti record release, maksudnya dengan jaringan dan relasi tersebut ga menutup kemungkinan juga untuk membuat projek split dengan band yang ada disana, relasi antara scene lokal dng luar sudah cukup baik, mereka tidak menutup diri dengan scenester lokal, mereka mau memahami cara pandang kita.

kalau dr segi ekonomi ada perbedaan, disini untuk membuat show diperlukan biaya yang cukup besar dari segi penyewaan tempat hingga penyewaan sound, keuntungan yang didapat juga ga seberapa malah sering ga dapet untung, seringnya kita ga bisa memberi uang yang didapat dr show untuk membantu tur mereka selama di indonesia, namun mereka memahami dan mau mengerti kondisi tersebut.

[ALDY] Banyak hal yang dapat kita raih dari datang nya mereka kesini, antara lain kita dapat menyimaki secara langsung apa yang mereka orasi kan di dalam perform mereka, kita lebih mengenal dunia internasiaonal, kita dapat mengetahui tentang perkembangan scene DIY mereka, dan mungkin kedatangan mereka memberikan suatu edukasi atau pengalaman yang akan sangat berdampak kepada kita, lets learning about something that we dont know before…Relasi antara mereka dan kita yang saya tahu sejauh ini sangat menyenangkan, mereka sangat interaktif walaupun terkadang mereka tidak mengerti apa yang kita katakan begitupun sebaliknya.

Sebenarnya dari sisi persamaan, kita hampir menyamai, walaupun beberapa hal ada yang ketimpangan, dilihat dari segi ekonomi, mungkin rencana mereka sangat matang dalam mengadakan tour-tour mereka, dilihat dari cara pandang mungkin scenester di kita kebanyakan hanya mementingkan suatu trendsetter belaka ketimbang inti dari sebuah scene itu sendiri.

[Elgis] keuntungan dari band international yang datang ke sini adalah kita dapat sharing tentang segala hal yang sebelumnya belum kita ketahui. Scenester lokal dengan internasional yang saya amati sih masih belum cukup sama, masih banyak perbedaannya dari berbagai sisi dan cara pandang juga (sebenernya organizer,band dan zine writer di tiap kota yang ada di indonesia saja masih banyak yang belum equal) tapi mungkin hal itu juga terkadang membuat kita merasa tidak jenuh di dalam scene.

[Q] apa menurut kamu tour DIY mereka ke Indonesia gak ada bedanya ama turisme alias perjalanan wisata, tapi kali ini dibawah bendera ‘hardcore/punk’? atau beda? apa ada hal yang lebih substansial dari sekedar maen di negara ‘eksotis’ kayak Indonesia?

[KIKI] kalau untuk turisme berbeda, dalam tour diy kita bekerja sama satu sama lain untuk mengorganize baik itu acara maupun guidingnya, mereka juga tidak mempermasalahkan akomodasi maupun transportasi yang mereka gunakan, di lain hal guide dr anak2 juga ga meminta bayaran, nah justru yang substansial dr segi networking yang bisa kita jalin, kita bisa berkenalan dengan mereka saat mereka tur disni, dan selanjutnya kita bisa berkomunikasi, tukar pikiran dan bekerja membuat proyek DIY bersama mereka,ataupun mereka bisa membantu mengorganize show bila kita ingin tur kesana, yang substansialnya ya jaringan tersebut.

[ALDY] Ya, menurut saya mereka adalah sekelompok pariwisata hardcore tetapi sekaligus ingin share tentang argument mereka di perform band mereka di sini, mungkin mereka juga ingin mengetahui mengenai perkembangan scene DIY kita, dan juga culinary merch, culture and food juga…

[ELGIS] menurut saya bisa di bilang pariwisata (soalnya udah beberapa kali disuruh nganter band yang tour untuk berbelanja dan jalan2 ke tempat wisata hehe….!!!) tapi menurut saya mereka bukan hanya sekedar datang dari kota ke kota, negara ke negara hanya untuk bermain di suatu pentas tapi masih banyak hal yang terkadang mereka ingin ketahui seperti sifat yang kompleks dari individu dalam scene/orginze, ataupun segala bentuk sistem yang ada di sini…

[Q] problem apa yang biasanya didapet ketika nge organize show buat band DIY luar? n gimana tanggapan mereka? apa ada contoh kasus dimana band DIY luar sulit untuk bekerjasama?

[KIKI] pertama problemnya ada di pemerintah, pemerintah tidak mendukung ruang apresiasi bagi anak-anak muda di sini, bila kita ingin membuat acara pure legal membutuhkan dana yang sangat mahal, kita kesulitan dalam mencari dan menyewa tempat, dan bila itu ada harga sewanya pun gila-gilaan, di lain hal aturan-aturan mereka sangat ngejelimet baik dari segi perizinan maupun visa-visa dari band luar yang melakukan tur kesini, jadi ya itu kendala tempat dan aturan-aturan di negara ini yang memang menyebalkan, tanggapan mereka cukup salut dengan upaya-upaya kita mengorganize show mereka, mereka salut dengan kerja sama orang-orang di kolektif yang jumlahnya cukup banyak dan satu sama lain berusaha agar show band mereka berjalan lancar, nah kalo contoh kasus ada juga yg rese ato susah, mereka byk maunya, sedangkan satu sisi kita juga ga bisa nyanggupin kemauan mereka,ada juga yang jutek hehe…kita mau sekedar ngobrol atau membangun komunikasi ama mereka juga udah jadi males duluan…

[ALDY] Salah satu masalah yang selama ini sangat fenomenal bagi saya pribadi menyikapi hal pengorganisiran band DIY luar adalah perijinan tempat, di bandung sendiri banyak tempat yang bisa kita pakai untuk menggelar acara band, akan tetapi terkadang di berbagai pihak yang terkait dalam hal perijinan tidak setuju akan adanya orang orang asing yang ingin singgah dan ikut perform. Dengan alasan yang kekanak-kanakan akhirnya kita susah mendapatkan perijinan tersebut.

Selama ini mereka sangat mengerti akan keadaan pemerintahan kita yang seperti ini,  dan mau tidak mau mereka harus mengerti.

[ELGIS] problem yang masih dirasa menjadi kendala terbesar adalah soal tempat untuk dijadikan lahan acara (kalau soal dana saya rasa masih bisa tertutupi oleh jumlah orang2 dan volunteer yang ada di dalam orginze) terkadang kita mendapatkan suatu tempat yang nyaman tapi kadang2 tempat itu malah dirusak oleh orgnize lain yang menggunkan tempat yang sama dan alhasil tempat itu kandang2 gak bisa di pake lagi.. Selama ini belum ada band DIY yang sulit untuk di ajak bekerja sama.

[Q] gimana reaksi band DIY luar terhadap band lokal? apa mereka cukup support n tertarik? apa menurut kamu scene lokal DIY dari Bandung atau Indonesia belum mendapat ruang, ketertarikan n support yg cukup dari scene DIY internasional, terutama dari Eropa atau Amerika? n solusi apa yang kamu harapkan dari ketimpangan ini?

[KIKI] reaksi band mereka pun cukup apresiatif, kebanyakan dari mereka tidak ingin melewatkan penampilan-penampilan band lokal yang bermain bersama mereka, tapi dr segi support pada rilisan lokal setau yg sy liat hanya sedikit dari mereka yg membeli rilisan-rilisan band-band lokal,mungkin karena mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk tur band mereka, kalau belum mendapatkan ruang, mungkin dari segi keaktifan scenenya aja, disini kebanyakan aktifitas scene berupa organize show, zine writer maupun records, namun sekarang byk juga dr records-records di indonesia yang bisa mengeluarkan rilisan dalam bentuk co-release dengan records-records luar, ataupun mengeluarkan kompilasi dimana band luar tertarik dan mau berkontribusi. zine-zine writer juga makin bertambah banyak. permasalahnnya mungkin dari segi pendistribusiannya aja, yang kebykan pendsitribusian zine ama rilisan band lokal hanya di negara kita aja,nah disni mungkin komunikasi memang perlu lebih dijalin dengan sering melakukan korespondensi dengan scenester luar.

[ALDY] Mereka sangat mengagumi dan interaktif kepada band band lokal, mereka sangat mensupport kita, terutama mereka sangat tertarik kepada kita yakni terhadap bagaimana cara kita mengorganisir band band internasional maupun band band lokal, karena pengalaman mereka membikin suatu acara DIY cukup sulit mengajak orang orang untuk dapat membantu kedalam pengorganisiran acara mereka tersebut, mereka sangat kagum terhadap scene scene di setiap daerah di Indo karena di kita setiap mengadakan suatu acara pasti di kelola atau di organisir secara bersama sama, mereka juga mengagumi pertalian kekeluargaan di scene kita, kemudian keakraban kepada setiap scenester, dan juga keramahan kita.

Saya juga sangat menyayangkan terhadap scene luar yang masih belum menganggap band band DIY di kita, mungkin karena faktor band band di kita kurang jaringan komunikasi ke luar, kebanyakan band band DIY di kita hanya berrelasi terhadap scene lokal saja.so, let’s share our songs to them!!XP

[ELGIS] Yeah…!!! seperti yang saya bilang tadi mereka memiliki rasa penasaran terhadap apa yang ada di suatu show baik itu berbentuk performance band ataupun lapakan, dll…

Saya rasa pertama2 kita harus membangun scene DIY di indonesia dengan suatu pemahaman sebaik2nya tentang apa itu arti DIY sebelum scene luar mengenal kita !!!(Curhatan saya tentang scene DIY) karena saat ini banyak orang yang menganggap bandnya DIY hanya karena selalu bermain di dalam studio (bermain di studio show = DIY)

Mungkin mereka belum menganggap serius band2 DIY di indonesia karena belum ada band DIY Indonesia yang eksistensinya sampai ke seluruh dunia.

[Q] udah pernah liat dokumenter Cluster Bomb Unit ttg tour mereka di Indonesia? ketika DVD itu dirilis (liat website mereka: http://www.clusterbombunit.com), judul DVD itu menjadi “punk im jshungel” yg artinya “punk in the jungle”, bukan lagi pake judul sebelumnya “pang nat det.” apa menurut Kiki, judul ini menkonotasikan Indonesia sebagai ‘hutan’ untuk menekankan aspek eksotik nya? atau hanya judul belaka?

[KIKI] sy udah pernah liat videonya, cuman untuk fisik dvdnya belum, nah sy juga pernah mendengar kabar dr hal ini, yg sy tau pihak pembuat dr video tersebut tidak memberikan komunikasi nya kepada scene-scene khususnya orang-orang yang dilibatkan dalam pembuatan video tersebut, mereka tidak memberikan persetujuan apakah judul tersebut ok atau ngga, jadi ya jelas disni tidak ada konfirmasi sama sekali ya dan sy juga merasa aneh, lah kenapa punk in the jungle?dan di videonya juga show CBU maupun dokumentasinya bukan di hutan, mungkin ini hanya judul belaka aja…tapi disni ada ketimpangan dr pihak pembuat video tersebut, jelas ya mereka tidak mengkomunikasikan sama sekali mengenai pemberian judul pada film dokumentasi yang dibuatnya.

[Q] apa harapan kalian kedepan untuk scene DIY lokal? dan juga untuk relasi antara scene DIY lokal dg scene DIY internasional?

[ALDY] Lebih bersatu dan lebih menjaga komunikasi terhadap scene DIY lokal, maupun relasi kepada scene DIY internasional. Kita juga berharap ada suatu tempat (selayaknya VERA atau YellowDog…hehehe) yang bisa dipakai untuk distribusi atau mengadakan suatu kegiatan DIY, dan juga sebuah venue yang aman dari serangan aparat…we hope so!

[ELGIS] harapannya agar scene DIY lokal/internasional dapat memiliki genggaman yang kuat supaya kita lebih memiliki jangkauan yang lebih luas lagi dari pada sekarng2 ini.

|Interview with DenDrew [Balkot Terror Project/Lapuk Zine/Alternaïve Distribution]|

[Q] Dari sepengetahuan Deden, udah berapa jumlah band luar yang dateng ke Indonesia n maen dengan bantuan DIY networking di Jawa-Bali-Kalimantan? Dari tahun 2003-2009?

[DenDrew] Kalau dikatakan jumlah pastinya sendiri nggak bisa dipastikan berapa jumlah band DIY internasional yang datang untuk tur ke Asia Tenggara khususnya Indonesia. Di Indonesia sendiri pada awalnya rute tur sendiri lebih banyak terkonsentrasi di P. Jawa mengingat secara geografis dan historis tentang komunitas hardcore punk di P. Jawa memang lebih dulu mendapatkan akses tersebut. Tak di pungkiri lagi perkembangan teknologi dalam hal ini internet telah banyak membuka komunikasi ke komunitas di pulau-pulau lain selain P. Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Bali, dll. Dan setiap tahunnya kuantitas band yang melakukan tur ke Indonesia semakin meningkat. Dengan banyaknya juga kawan-kawan dari DIY lokal networking yang melakukan kontak atau korespondensi dengan band-band DIY internasional membuka jalan ke arah tersebut.

[Q] Apa jumlah band2 yg dateng ini meningkat dari tahun 2003 atau 2004? N berapa banyak lagi yg akan datang di tahun 2010?

[DenDrew] Bisa dikatakan memang mengalami peningkatan secara grafik dari tahun ke tahun. Di awal tahun 2010 ini ada beberapa band yang akan melakukan tur, diantaranya yang sudah fix jadwal turnya Jan 2010 PISSCHRIST (Australia ) dan BLOCKSHOT (Jerman) dan GERMS ATTACK.

[Q] Berapa banyak n band mana aja yg pernah Deden organize atau involve dalam pengorganisirannya? baik sebagai individu atau kolektif?

Secara Kolektif :

RECLAIM THE STAIRS

1. RAMBO (USA)

2. SECOND COMBAT + ELEVEN (Malaysia)

3. SECRET SEVEN (Singapore)

4. BARACKA (Hungaria)

5. UNDER ATTACK + SUBTLE REVENGE (Singapore)

5. MY DISCO (Australia)

6. CLUSTER BOMB UNIT (Jerman)

7. VIVISICK + FUCK ON THE BEACH (Jerman)

8. STEVE TOWSON (Australia)

9, SABOT (Rep. Chech)

ANAK MUDA PRODUKTIONZ

1. MY PRECIOUS (Singapore)

2. KIDS ON THE MOVE + CHANNEL X (Malaysia)

3. CONQUEST FOR DEATH (USA)

BALKOT TERROR PROJECT

1. CONQUEST FOR DEATH (USA)

2. MOTIVATION (Hungaria)

3. STRAIGHTJACKET NATION (Australia)

4. PUNISHABLE ACT (Jerman)

5. MEANING (Jepang)

6. KRUPSKAYA (UK)

7. FANG ZUI XIANGFA

8. REPOMAN

9. A BETTER HOPE FOUNDATION

10. PISSCHRIST (Australia)

12. BLOCKSHOT (Jerman)

[Q] problem apa yang biasanya didapet ketika nge organize show buat band DIY luar? n gimana tanggapan mereka? apa ada contoh kasus dimana band DIY luar sulit untuk bekerjasama?

[DenDrew] Permasalahan yang selalu dihadapi tak hanya ketika membuat show untuk band luar yang sedang tour atau pun show lokal yaitu penyediaan alat berupa sound system dan venue, karena infrastruktur yang di punya oleh kawan2 DIY lokal disini yang masih kurang. Dari hal tersebutlah biaya operasional yang menjadi membengkak, permasalahan yang terus menjadi PR tak hanya di kolektif BALKOT TERROR PROJECT tapi juga di alami oleh kawan2 kolektif DIY lainnya di Indonesia.

Beberapa band luar yang mengetahui detail dari satu proses kami membuat satu acara, mengaku sangat terkejut. sangat jauh berbeda dengan kondisi pengorganisiran suatu acara di tempat mereka. beberapa band luar yang telah melakukan tur disini menuturkan bahwa di eropa ataupun di amerika membuat show bisa di lakukan hanya dengan 1-2 orang saja, kontras dengan kondisi kita disini yang pada satu show bisa melibatkan banyak orang. Sejauh ini belum ada band luar yang sulit di ajak bekerja sama, paling hanya pada masalah personal ketika mereka cape atau mood mereka yang sedang jelek.

[Q] gimana reaksi band DIY luar terhadap band lokal? apa mereka cukup support n tertarik? apa menurut kamu scene lokal DIY dari Bandung atau Indonesia belum mendapat ruang, ketertarikan n support yg cukup dari scene DIY internasional, terutama dari Eropa atau Amerika? n solusi apa yang Deden harapkan dari ketimpangan ini?

[DenDrew] Melihat dari contoh ketika CONQUEST FOR DEATH bermain di Bandung,  antusias mereka terhadap band lokal sangat tinggi, ini terlihat dari keinginan mereka untuk bermain di awal. Dan tak hanya hanya mereka saja, beberapa band yang telah melakukan tur ke indonesia mengatakan sangat tertarik untuk melihat banyak perform dari band lokal. Dan mereka sangat support sekali. Scene DIY khususnya Indonesia dan umumnya Asia Tenggara saat ini menurut saya telah menjadi sorotan utama dari scene di Amerika, Jepang, Eropa, di barengi dengan kemajuan teknologi yang semakin memudahkan kita berkomunikasi dengan kawan2 di scene internasional.Terbukti dengan banyaknya beberapa band yang melakukan kolaborasi split atau rilisan mereka di rilis di luar. seperti Zudas Krust, Obsesif Kompulsif, Hellowar, Uno Paso Delante, dan banyak yang lainnya.

[Q] Apa definisi Balkot bagi Deden? n gimana perkembangannya, dari dulu Reclaim the Stairs ampe Balkot Terror Project?

Tentunya komunitas Balkot bisa dibilang menjadi sebuah keluarga yang lain bagi saya pribadi. Sebuah tempat dimana semua orang bisa belajar banyak hal. Dan awal dimana saya mengenal arti lebih dalam apa itu kolektif. Dan mempraktikan kerja-kerja kolektif dan yang terpenting mengenal ethic Do It Yourself. Dan tentu saja juga intrik tentunya, dengan perkembangan yang ada. Secara kuantitas RECLAIM THE STAIRS dan BALKOT TERROR PROJECT tak jauh beda, cuman untuk saat ini kita lebih banyak belajar bersama dalam segala hal. Bisa dibilang dimulai dari awal lagi. Beda dengan RECLAIM THE STAIRS dulu yang sebelumnya berangkat dari beberapa kolektif atau komunitas.






ISIS | December 6 2009| @ Vera, Groningen | 20.30-23.30

12 12 2009

Tentunya gak terlalu mengharapkan mereka untuk mainin lagu-lagu di Oceanic atau Panopticon, karena seperti biasanya, mereka dan kebanyakan dari band-band Amerika yang tur ke Eropa, selalu dalam rangka mempromosikan album baru yang dirilis, jadi lagu2 baru pasti diprioritaskan. Ternyata nomor2 dari kedua album yang udah familiar ditelinga akhirnya keluar juga. Karena belum sempet ngedengerin Wavering Radiant yang baru dirilis Mei tahun ini, asumsi: akan banyak ngelamun nonton Isis. Tapi karena ini pertama kalinya nonton mereka, apapun yang mereka suguhin, pasti jadi pengalaman yang luar biasa.

Show mereka dibuka ama dua band keren, Keelhaul (sesama almamater Hydra Head bareng Isis) mereka udah jadi band yang paling ditunggu kalo datang ke Groningen, dan satu lagi band yang gak disangka2 ajaib bin aneh, Circle, datang dari Piro,Finland menyuguhkan metal yang gak biasa. Bayangin Laibach dan sedikit John Zorn. Penampilan eksentrik si vokalis bikin ngak kak yang nonton. Kalo sepintas diliat, mereka sama sekali gak kayak performer metal lainnya (liat foto), mungkin lebih kayak sadomasochist klasik dari negara Eropa timur, terutama si vokalisnya. Emosi yang didapet pun dari nonton mereka cukup aneh. Awalnya hampir semua yang nonton pada kabur n gak tahan ama sound aneh mereka, tapi lama kelamaan jadi terhipnotis, n akhirnya goyang n headbang bareng mereka. Fantastis. Sebagai penutup, si vokalis dipangku pemain bass yang badannya lumayan ngisi sambil nyanyi2 dibarengi gestur militer plus kungfu yang bikin impresi terakhir lebih dari maksimal. Circle, gak salah lagi, memang kuda putih dari show malam ini.

Selanjutnya, Isis.

Aaron Turner (guitar,vox) dan Bryant Clifford Meyer (electronics, guitar dan keyboard) datang duluan ke panggung, disusul personil lainnya, Michael Gallagher (udah dijamin pasti edan karena pake kaos Dalek🙂 ), Jeff Caxide (yang paling kalem), dan terakhir si drummer Aaron Harris. Set up gear mereka sepertinya cukup standar (Mesa/Boogie dan Ampeg) kecuali gitar yang Turner dan Meyer pake sepertinya baru. Yakin seyakin-yakinnya mereka pake gitar custom buatan Electrical Guitar Company dari Florida, salah satu generasi penerus luthier gitar aluminium setelah Travis Bean dan Kramer.

Lagu pertama mereka pembuka set, ternyata dari Oceanic, “The Other”. Buru2 kamera video kunyalakan, karena momen yang cukup penting. Disusul setelah itu ama lagu2 baru mereka dari Wavering Radiant, dan satu dua dari Panopticon. Yang paling fenomenal datang di tengah2 set ketika mereka bawain “Carry”, dan penontonpun dengan penuh hati ber-sing-a-long ke lirik lagu ini. Paling menarik adalah settingan mikrofon Turner yang reverby, bikin suasana venue terhipnotis.

Tapi, kalo boleh jujur, kayaknya mereka gak kan lari kemana2 setelah album ini. Maksudnya, dengan style yang gini2 terus, Isis kayaknya udah mentok, gak ada yang spesial dari performance live mereka kalo dianalisis. Dari satu lagu ke yang lainnya, mirip semua. Dengan additional keyboard dan electronics, gak ngaruh2 amat. Dan mereka gak terlalu enerjik n entusias waktu maen. Mungkin juga ini memang simptom dari kebanyakan touring band yang punya jadwal tour 30 hari non-stop, terutama dari Amerika dan UK, yang udah beberapa kali tour Eropa. Tur pertama biasanya masih asyik2, tur kedua udah lumayan jenuh, tur ketiga udah ngalor ngidul, n tur selanjutnya biasanya udah males2an akut. Contoh: Tragedy waktu tur kesini sama sekali gak nunjukkin entusiasmu, malah grumpy.

Touring memang udah jadi bagian dari kerja untuk band2 kayak gini,jadi kadang2 maen show di satu kota yang bagi orang lain spesial, gak ada nilai surprise nya. Satu hal yang ngebedain kultur show di Asia Tenggara ataupun di Indonesia, booking agents disini bener2 ngaruh. Walaupun ada juga band2 yang gak mau pake booking agents, kebanyakan band2 yang lebih mengandalkan DIY networking. Disini, karena terlalu banyak show, biasanya orang jadi bingung mau pergi ke show yang mana, walhasil penonton yg dateng sedikit, kecuali kalo mereka yang udah punya nama kayak Isis, atau The Dodos kemaren. Di Indonesia, apapun show nya, selalu ‘diudag’ massa, n yang dateng  hampir selalu lumayan banyak, karena masih minim nya show yang bisa diprogram secara reguler. Mungkin disini juga dulu kayak gitu. Semua ada plus minusnya, baik di Indonesia maupun disini. Yang jelas disini bedanya, di konser hardcore/punk/metal pun, bapak2 n ibu2 berusia kepala 5 atau 6 pun masih dateng nonton gigs. Now that’s a rare sight in Indo🙂

Anyway, kembali ke Isis. Set mereka ditutup oleh satu lagu dari Panopticon (lupa judulnya) n satu lagu baru. Isis memang cukup influential, termasuk di Indonesia pun. But honestly, they just didn’t live up to the expectation. Cukup mengecewakan. Paling gak suka kalo band gak komunikatif. Satu kata pun gak keluar dari mulut mereka. Apa ini tren baru disini, band gak ngomong apapun ke mereka yang dateng?

[warning: review ini sangat subjektif. Kalo gak percaya, liat sub-judul blog ini]

Untuk foto2 mereka dari Vera, kunjungi:

http://www.vera-groningen.nl/photos/isis-circle-keelhaul-06-12-2009#





Salam buat semua di Indonesia dan Southeast Asia

25 11 2009

Hi, ini Ernesto MamaYukero! Hanya iseng bikin journal online untuk live shows yang saya pernah lihat semenjak tiba di negeri kincir angin ini. Saya saat ini studi di University of Groningen, untuk program research master Literary and Cultural Studies:Film, Music and Performing Arts. Groningen kota paling utara di Belanda yang gak kalah menariknya ama Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag.Bahkan untuk aktivitias kultural, disini lebih hidup dan menarik. Karena kota nya gak terlalu besar, kemanan2 bisa jalan kaki n naek sepeda, n juga kota pelajar yang populasi anak mudanya lebih besar dibandingkan kota2 lain disini. Terutama untuk musik underground/alternative/punk/DIY whatever you wanna call it, disini di Groningen infrastruktur dan partisipan nya sangat konsern akan aktivitas musik dan lainnya yang berkaitan ama cultural/arts affairs.

Ada satu tempat, sebuah klub/venue legendaris, yang bikin Groningen jadi kota yang wajib dikunjungi band2 dari U.S., U.K, Australia, Japan dan dari Belanda disini. Namanya Vera- Club for the International Pop-Underground. Slogannya diambil dari istilah ciptaan Calvin Johnson [Beat Happening, K Records].Klub ini sebenernya udah beroperasi dari awal 70-an, walaupun secara organisasional mereka udah terbentuk dari tahun 1899 sebagai perkumpulan mahasiswa. Dari akhir 70-an, mereka jadi lebih fokus ke programming gigs dan film serta aktivitas kultural yang berbeda dari klub lainnya disini. Mereka salah satu klub pertama yang booking band2 punk awal dari U.K dan juga Amerika. Walhasil, band kayak Joy Division, Killing Joke, Wire, The Birthday Party, Big Black, bahkan U2 dan Nirvana sempet manggung disini. Dan nama2 lain yang udah jadi bagian keluarga Vera diantaranya Sonic Youth, Dino Jr, Neurosis, The Wipers, Boredoms dll, udah jadi langganan show Vera. Yang paling menarik sebenernya gimana mereka beroperasi. Vera dikelola oleh hanya beberapa orang yang secara profesional, artinya mereka dapet gaji n segala macem, tapi dengan attitude egalitarian non-hierarkikal, Vera secara garis besar dijalankan oleh voluntir. Ada yang voluntir di bagian bartendering, bagian sound, di bagian pressing (mereka satu2nya klub yang bikin poster sendiri untuk tiap show, klub lain udah ngandelin printing press untuk advertisement secara masif, voluntir lainnya secara sukarela tiap minggu menyumbangkan waktu untuk mengelola klub ini.

Tapi, menarik untuk kita di Indonesia yang mana pemerintah lokal maupun nasional boro2 peduli ama aktivitas kultural apalagi musik brang breng brong, Vera dan beberapa venue kultural lainnya, dapet subsidi dari pemerintah tiap tahun. Tapi ini gak bikin mereka males2an untuk mengelola klub ini secara professional, dari mulai book keeping sampe akomodasi untuk band2 yang maen disitu. Note: di lantai dua venue, ada beberapa kamar tersedia khusus untuk band2 yang manggung, jadi band2 gak perlu nginep di hotel. Ditambah garasi yang luas untuk van/mini bus buat band yang tour, terus ada mesin cuci plus peralatan masak n bikin kopi, Vera bener2 menempatkan band yang dateng n maen sebagai pusat kegiatannya,jadi gak ada istilah band ditelantarkan ataupun gak diperhatikan. ‘Bands should always feel welcome and treated nicely here’, kata Peter Weening, programmer untuk show Vera yang udah jadi programmer Vera sejak tahun 1979. Dan banyak band2 yang selalu menantikan untuk maen di Vera setiap kali mereka tour Eropa.

Untuk info ttg Vera n koleksi poster mereka, bisa diliat di:

www.vera-groningen.nl

Saat ini saya lagi bikin research tentang Vera untuk salah satu mata kuliah, dan hasilnya sangat menarik sekali. Mudah2an bisa dipublish suatu saat. Tapi, untuk saat ini, saya pengen sharing dokumentasi n review dari show2 yang pernah dan akan saya tonton di Vera. Atau mungkin show2 di venue lain di Belanda n sekitar Eropa barat. Beberapa yang pernah ditonton: Boredoms-Japan(2007), Michael Gira (Swans)-USA (2007), Shellac-USA(2009), Magik Markers-USA(2009), Pulled Apart by Horses-UK(2009), The Dodos-USA(2009), dan beberapa show lainnya. Terakhir kali, saya nonton The Dodos n sempat interview mereka.

Untuk postingan pertama ini, review The Dodos (coming soon) kayaknya jadi debut blog ini, karena masih fresh di ingatan. Enjoy, guys! n kirim salam atau komen di blog ini. I miss Batagor kuah n keringgggg!!!!!!!!!!!!!!